Selasa, 31 Juli 2018

Looking Glass self : Cermin diri dalam Pendidikan







Di dalam kehidupan yang kita jalani saat ini pastilah banyak peristiwa yang datang silih berganti. Peristiwa yang menyenangkan biasanya akan memberikan dampak positif berupa semangat untuk melakukan hal-hal yang lain. Sedangkan peristiwa negatif biasanya memerlukan pengelolaan rasa yang lebih dari diri kita. Saat kita mampu mengelola perasaan negatif itu dengan baik, maka hal-hal baik pula yang akan kita dapatkan.
Dalam rtikel sederhana kali ini penulis mencoba menempatkan konsep ‘looking glass self’ (cermin diri) yang dikenalkan oleh Charles H . Cooley dalam suatu pemahaman pendidikan, khususnya pada saat kita melakukan proses pendidikan di suatu lingkup sekolah.
Melalui teori yang dipaparkannya, Charles H. Cooley menyatakan bahwa sosialisasi adalah proses pembentukkan diri (self). Cooley lebih menekankan peranan interaksi dalam teorinya ini. Menurutnya, Konsep Diri (self concept) seseorang berkembang melalui interaksinya dengan orang lain.
Di dalam dunia pendidikan, sosialisasi peserta didik merupakan salah satu unsur penting yang harus kita (sebagai pendidik) perhatikan. Peserta didik akan mengalami banyak sosialisasi selama kurun masa belajar yang dialaminya.
Kita sebagai pendidik sedikit banyak dituntut untuk mampu memahami dan mendampingi proses yang terjadi itu. Dengan melalui tahap sosialisasi yang baik dan tepat, diharapkan peserta didik akan mampu menjalani masa pendidikannya dengan baik pula.
Tahapan sosialisasi yang menghasilkan konsep diri atau looking glass self yang dikemukakan oleh Charles H.Colley terbentuk melalui tiga tahapan sebagai berikut:


Yang pertama, kita membayangkan bagaimana kita di mata orang lain.
Contoh: Seorang peserta didik merasa dirinya sebagai anak yang paling hebat dan yang paling pintar karena sang peserta didik memiliki prestasi di kelas dan selalu menang di berbagai lomba.
Dalam tahapan ini, sebagai pendidik, kita harus mampu untuk memberikan landasan yang tepat pada sang peserta didik. Kita harus mampu memberikan asupan pemahaman yang tepat bahwa orang memang akan melihat kita dari sisi luar kita. Saat berprestasi, orang akan mengucapkan selamat dan memuji kita, namun saat kita gagal, kita lah yang harus siap untuk memperbaiki diri dengan tanpa putus asa.
Pada tahapan ini, semakin sering anak berhasil untuk meraih prestasi, maka konsep memahami bahwa apabila suatu saat andai dia gagal, dia harus bisa menerima dan memperbaiki diri – harus lebih ditanamkan.
Sama halnya dengan peserta didik yang terbiasa gagal, kita harus juga membantunya agar memahami, bahwa apabila suatu saat dia akhirnya berhasil, keberhasilan tersebut hendaknya bisa membuatnya terpacu utk berprestasi lagi dan bukannya membuatnya puas hati dan tidak mau melakukan sesuatu kembali.


Yang kedua
, kita membayangkan bagaimana orang lain menilai kita.
Contoh: Dengan pandangan bahwa si peserta didik adalah anak yang hebat, peserta didik atau anak tersebut kemudian membayangkan pandangan orang lain terhadapnya. Ia merasa orang lain selalu memuji dia, selalu percaya pada tindakannya. Perasaan ini bisa muncul dari perlakuan orang terhadap dirinya. Misalnya, gurunya selalu mengikutsertakan dirinya dalam berbagai lomba atau orang tuanya selalu memamerkannya kepada orang lain.
Sebagai pendidik yang harus kita lakukan berkenaan dengan tahapan kedua ini adalah kita harus mengingatkan peserta didik kita, bahwa apa yang kita pikirkan mengenai pemikiran atau pendapat orang lain belum tentu benar.
Kita harus tetap mendampingi peserta didik tersebut sehingga dia tidak terlalu berlebihan dalam menganggap dirinya hebat. Kita bisa memberi contoh nyata tentang orang-orang di sekitarnya yang jauh lebih berhasil dan hebat. Dan memberi masukan atau nasehat bahwa setiap individu pasti memiliki kelebihan yang bisa dibanggakan.
Memurut teori psikologi anak, perasaan hebat yang dimiliki oleh seorang anak bisa jadi menurun kalau sang anak memperoleh informasi dari orang lain bahwa ada anak yang lebih hebat dari dia. Menurunnya perasaan bangga yang dimiliki sang anak bisa berdampak negatif terhadap motivasi diri sang anak untuk terus berprestasi. Oleh karena itu guru (dan juga orangtua) harus mengantisipasi dengan terus memberikan asupan nasehat berkenaan dengan rasa bangga terhadap diri sendiri ini.


Yang ketiga
, bagaimana perasaan kita sebagai akibat dari penilaian tersebut. Dengan adanya penilaian bahwa sang peserta didik adalah anak yang hebat, timbul perasaan bangga dan penuh percaya diri.
Tahapan ketiga ini merupakan tahapan yang bisa dimanfaatkan sedemikian rupa untuk menunjang keberhasilan suatu pembelajaran.
Perasaan bangga dan penuh percaya diri pada saat pembelajaran berlangsung akan membawa sang peserta didik untuk dapat berkonsentrasi dan mengikuti pelajaran dengan lebih optimal.

Konsep ‘looking glass self’ (cermin diri) ini memang merupakan konsep positif yang dapat diterapkan di berbagai aspek kehidupan.Dalam proses pembelajaran di kelas pun, tidak kita pungkiri bahwa semakin kita dapat memahami konsep diri yang ada pada seorang anak, maka kita akan lebih mampu untuk memahami sistem pembelajaran yang cocok untuknya.

Meskipun pemahaman terhadap konsep diri tiap-tiap individu atau peserta didik tidak mudah untuk kita pelajari dan kuasai, namun dengan ketekunan – kita akan mampu memperoleh pemahaman yang tepat mengenai hal ini. Dan dari pemahaman mengenai konsep diri ini, diharapkan peserta didik yang kita bimbing akan bisa menjadi individu yang selalu positif, tidak terlalu besar kepala saat memperoleh kesuksesan atau prestasi dan tidak akan terlalu down atau patah semangat saat mengalami kegagalan.
Penulis sadar bahwa uraian mengenai konsep ‘looking glass self’ atau konsep diri pada artikel sederhana ini masih sangat dangkal, namun penulis berharap artikel ini dapat memberikan sedikit gambaran mengenai konsep ‘looking glass self’ bagi kita. Penulis juga berharap agar artikel ini dapat membantu kita untuk menerapkan konsep ini di dalam proses pembelajaran di kelas meski mungkin dalam bentuk yang sangat sederhana.

*dirangkum dari berbagai sumber

0 komentar:

Posting Komentar